Kedatangan era industrialisme dan perkembangan pesat ilmu pengetahuan berbagai arah membuat manusia menjadi sombong: pemikiran ke arah metafisika telah menjadi sesuatu yang tak lain dari pada omong kosong, terutama di negeri barat dimana agama dianggap sebagai ajaran yang tua dan yang tidak bermanfaat di masa kini. Banyak saya mendengar perkataan seperti berikut ini: ” Buat apa berpikir tentang keberadaan TUHAN, toh saya sudah bisa menjelaskan segala hal secara rational, secara matematis maupun secara filologis “. Akankah manusia bisa mengerti hakikat dan pergerakan segala entitas di jagat raya maupun jagat raya itu sendiri ?
Kita tahu menurut pengalaman kita sendiri, menurut ilmu biologi, atau menurut ilmu geometri bahwa makhluk yang terkenal sebagai yang tertinggi di muka bumi ini hanya bisa menangkap ,dengan mata telinga, hidung, maupun alat peraba, ruang 3 dimensional: kita mengetahui bahwa bola itu bulat, dan juga kita mengetahui bahwa tumpeng itu kerucut. Untuk mengenali plastisitas dari benda-benda ini, sang mata memerlukan bantuan dari cahaya. Bisa dikatakan bahwa cahaya memberikan informasi tentang hakikat benda itu sendiri. Gambaran yang kita lihat, yang diproduksikan oleh otak bersifat 2 dimensi, tetapi karena permainan intensitas warna, seperti di lukisan-lukisan pemandangan, kita mengenalnya sebagai ruangan.
Tetapi hidup tidak hanya berkaitan dengan ruang, melainkan juga dengan waktu. Apakah hidup itu hidup bila kita hanya melihat satu gambar saja? apakah musik itu indah, jikalau kita hanya bisa mendengar satu ketukan saja? dan apakah kita bisa menilai sebuah perubahan, dari sisi baik maupun buruknya, seandainya perubahan itu sendiri tidak berubah ? .Sangat naiflah seseorang bila dia mengatakan bahwa ruang dan waktu adalah dua faktor yang berbeda, yang tidak berhubungan satu sama lain.
Terkadang ada permasalahan yang disebabkan oleh kehadiran waktu, dan yang tidak bisa kita prediksikan. Contohnya kejadian tabrakan mobil: seandainya waktu pada saat itu tidak berjalan, korban tabrakan bisa menghindari datangnya mobil, dan mungkin hidupnya bisa terselamatkan. Seandainya seorang makhluk 2 dimensi berada entah dimana, dia pasti punya problem dimensional juga:
Bayangkan, seorang manusia 2 dimensional ( manusia garis atau smiley) terperangkap di penjara berbentuk segi empat atau lingkaran, bukan kubus atau bola. Sebagaimanapun dia berusaha, saya yakin dia tidak bisa mengatasi problem tentang keterperangkapan ini. Sesaat setelah itu, datanglah seorang manusia, yang kelihatannya seperti saya yang di saat ini sedang menulis dan anda yang di saat ini sedang membaca tulisan ini. Manusia 3 dimensional ini pasti akan menertawai yang terperangkap, dan dia akan mengatakan kepadanya bahwa lingkaran atau segi empat itu sebenarnya bukanlah suatu rintangan yang tidak dapat dilewatkan, dan dia akan menyuruh makhluk itu untuk meloncati sisi lingkaran. sayangnya makhluk 2 dimensi itu tetaplah makhluk 2 dimensi: dia tidak mengenal apa itu artinya meloncat, karena dia sendiri tidak bisa meloncat (dia hanya bisa bergerak di bidang horisontal). Setelah sang manusia seperti kita mengangkatnya, barulah dia bisa terbebas dari penjara itu.
Intinya, jadi manusia tidak boleh sombong, karena keterbatasan pikirannya yang terletak di hakikat 3 dimensional. Mungkin saja ada makhluk 4,5,6 …….. atau 100 dimensional yang sedang melihat gerak-gerik kita, yang juga kita kenal sebagai TUHAN, JHW, ALLAH , BUDDHA, SHIVA, Si Mula Jadi Na BOLON, atau dengan nama lainnya, dan yang juga mungkin bisa memberikan saran-saran untuk mengatasi problem-problem atau dilema-dilema yang kita hadapi sehari-hari.
Sekian dahulu tulisan pertama saya ini. Saya berterima-kasih buat anda yang telah meluangkan waktu untuk membaca karya saya yang sederhana ini, dan juga saya mohon maaf untuk keterbatasan saya dalam bertata-bahasa, maklum saya sendiri belajar bahasa Indonesia hanya sampai kelas 3 SMP ( Nilai juga pas-pasan).